Asian Winter School 2011 in Sokendai-ISAS/JAXA (part3)

Tags

, , , , ,

15 Feburari 2012
Pagi ini saya bangun seperti biasanya yaitu biasa untuk jam Indonesia. Yak entah karena kecapekan atau karena alarm tubuh saya yang masih belum menyesuaikan selisih 2 jam dari WIB, saya bagun jam 6 lebih saat matahari sudah terlihat menertawakan ke-kebo-an saya. Oke saya bener-bener khilaf tidak mengeset alarm.

Jam 9 kita berangkat dengan bus menuju Sagamihara Campus untuk memulai acara hari I. Tempat ini merupakan kampus dari SOKENDAI yang sekaligus merupakan kampus riset dari ISAS/JAXA. Kampus ini terbuka untuk dikunjungi oleh masyarakat. Selain di Sagamihara ini, ada juga space center di Tsukuba (tempat riset), Chofu (tempat exhibition), dan Uchinoura (tempat peluncuran roket).

ISAS, Sagamihara Campus

Acara dimulai pukul 10 dengan seremonial pembukaan oleh salah satu deputi ISAS/JAXA. Kemudian diikuti dengan lecture series dari pengajar dan peneliti di Sagamihara Campus. Selama acara kita didampingi oleh seorang staf dari ISAS yaitu Fukayama-san dan Assoc. Prof. Yoshitsugu Sone.

Materi pertama diisi oleh Assoc. Prof. Satoshi Tanaka dari Department of Planetary Science. Materi yang dibawakan beliau memang lebih kepada penjelasan tentang struktur internal pada solid planets meskipun belia bercerita juga tentang Kaguya  dan Hayabusa. Kaguya adalah lunar orbiter yang akhirnya crash di bulan sedangkan Hayabusa yaitu unmanned spacecraft yang bertujuan mengambil sample asteroid Itokawa. Sepertinya mereka sangat membanggakan misi dari Hayabusa ini karena memang ini adalah sample objek luar angkasa pertama yang bisa diambil selain sampel dari bulan. Sampai-sampai Hayabusa ini dibuat tiga buah filmnya, dengan tempat pengambilan gambar diantaranya di ruangan presentasi ini. (Film pertamanya yang saya tonton bahkan berdurasi 2 jam 20 menit -___-)

Replika Hayabusa, ISAS Sagamihara

Setelah break istirahat, materi selanjutnya tentang small satellite yang dibawakan oleh Assoc. Prof. Shujiro Sawai. Beliau adalah project manager untuk small satellite di ISAS. Inilah materi paling menarik selama acara berlangsung meskipun small satellite yang dimaksud cukup besar juga (ukuran 250-350 kg). Beliau ahli pada bidang attitude control pada rocket dan satelit dan juga control system satelit. Belakangan saya tahu bahwa salah satu project beliau yang sangat wah yaitu engine pada Akatsuki (Venus climate orbiter) dan juga target marker pada Hayabusa (target marker digunakan sebagai penanda pendaratan dari Hayabusa).

Target marker yang merupakan kumpulan “kacang” (http://www.jaxa.jp/article/special/hayabusa/sawai_e.html)

Salah satu tantangan pada target marker Hayabusa yaitu kita sulit meletakkan sebuah objek yang bisa dijadikan sebagai penanda pada asteroid karena gravitasi pada asteroid sangat kecil sehingga objek yang kita tembak pasti akan memantul kembali.

Pada kasus Hayabusa, beliau terisnpirasi pada otedama yaitu sebuah mainan tradisional Jepang yang berupa kantong semacam kacang. Prinsipnya yaitu energi momentum dari masing-masing kacang akibat terjatuh akan saling menghilangkan karena tumbukan antara masing-masing kacang. Tentu pada Hayabusa tidak digunakan kacang 😀

Beliau juga menejelaskan tentang komunikasi data yang digunakan dalam kounikasi space. Protocol yang biasa digunakan yaitu spacewire. Protocol yang pertama kali dikembangkan oleh ESA (European Space Agency) ini katanya sangat menjanjikan karena kecepatan data yang tinggi. Sekarang tidak hanya ESA saja yang menggunakan protocol ini, tetapi juga NASA, JAXA, dan RKA (badan antariksa Rusia). Menurut beliau, kejadian malfunction pada satelit paling sering disebabkan oleh kegagalan pada baterai yaitu sekitar 50%.

Sauasana ruangan dengan lampu yang dimatikan dan juga kelelahan karena keluar malam tadi membuat mode tidur langsung ON. Ternyata tidak hanya terjadi pada saya, tetapi juga dengan Bang Amrul yang tiba-tiba membuat suasana ruangan menjadi ger-geran 😀

Sesi ketiga disampaikan oleh Assoc. Prof. Iku Shinohara, Department of Space Science Information Analysis. Beliau merupakan project manager dari GEOTAIL yang pada tahun ini berusia 20 tahun. GEOTAIL adalah satelit pengamat magnetosphere bumi yang dikembangkan oleh ISAS bekerjasama dengan NASA. . Meskipun cukup tua, sekarang satelit ini masih dalam keadaan sehat dan masih berfungsi normal. Meskipun sempat mengalami gerhana selama >4 jam, baterai dan perekam yang ada masih berfungsi tanpa menunjukkan penurunan kinerja dan hanya mengalami sedikit masalah minor pada instrument tetapi tidak berakibat pada perubahan data output

Sesi terakhir merupakan sesi tour ke fasilitas yang ada di kampus ini. Kita diajak untuk melihat proses pembuatan satelit (saya kurang tahu  satelit apa yang sedang mereka kerjakan saat itu). Karena tidak diperbolehkan mengambil gambar maka tidak ada gambar dokumentasi di sini. Proses pembuatan dilakukan di clean room yang saya rasa sangat luas, mungkin seukuran gedung CC.

Sesi hari pertama baru selesai pada pukul 18.00. Karena jadwal yang sangat padat, hampir tidak ada sesi jalan-jalan mandiri yang bisa kita lakukan. Bahkan keinginan saya untuk ke Tokyo Tower pun gagal. Malam ini kita bersama dengan Bang Ridlo PN06, yang sedang mengambil doktoral di TMU, hanya keluar keliling Machida sebentar hanya untuk makan karena rencana untuk mencari toko yang menjual barang bekas di sekitaran Machida pun gagal (peta reltime yang ada tidak jelas).

Iseng @ Machida

Asian Winter School 2011 in Sokendai-ISAS/JAXA (part2)

Tags

, , , , , , ,

14 Februari 2012

Akhirnya mendarat Incheoun sekitar pukul 4.30 waktu setempat (ini landing paling smooth yang pernah saya rasakan). Akhirnya menginjakkan kaki di luar Indonesia untuk pertama kali haha. Suhu di luar -2oC! Gimana dinginnya ya di luar, di dalam bandara pun masih lumayan dingin.

ngetem dulu gan :D

ngetem dulu gan 😀

Ibu dan Anak

Ibu dan Anak @Incheoun

Setelah bersih-bersih seperlunya, selanjutnya melalui pemeriksaan imigrasi. Yak untuk pengecekan kali ini berjalan lancar. Karena masih belum tahu tempat prayer room, salat subuh pun terpaksa dengan menggelar jaket di ruang tunggu. Untungnya ruangan masih sepi jadi tidak terlalu menarik perhatian orang sekitar. Flight selanjutnya masih 3 jam lebih jadi lumayan lah masih ada waktu untuk jalan-jalan dan ambil gambar seperlunya. Sempat juga nyobain koneksi internet wireless bandara dan lumayan kencang lah, test speedtest.net dapat download speed 16.51 Mbps (coba ini dibawa ke kosan haha).

Incheoun Airport

Incheoun Airport, Masih Sepi

Akhirnya pukul 9 kurang sudah mulai masuk gate. Occupancy kali ini penuh juga, untuk Y class mungkin hampir 100%. Penumpang sepertinya didominasi pribumi Korea dengan beberapa pribumi Jepang (mungkin karena masing-masing saling gengsian yak, atau karena insiden Korean Air yang melintas daerah yang jadi rebutan Korea-Jepang sehingga sampai-sampai pejkabat Jepang dilarang naik Korean Air?). Makanan kali berbeda dengan sebelumnya , yaitu nasi briani. Ngga tau apa memang nasi ini tidak cocok dengan selera saya atau karena memang lagi masakan pesawat saja.

ICN-NRT ditempuh sekitar 2 jam-an dan akhirnya mendaratlah di NRT sekitar setengah 12. Kesan saya pertama kali sampai yaitu yak Jepang memang negara yang sangat tertib dan ramah! Yak ramah, bahkan (maaf) mereka lebih ramah dari kita! Saat pengisian kartu kedatangan di imigrasi, sebelum pemeriksaan ada staf yang memberi tahu cara pengisian dan sikapnya sangat ramah dengan murah senyum. Cukup berbeda dengan pelayanan saat transist di Incheoun yang tidak ada ramahnya.

Welcome to Japan!

Welcome to Japan!

Keluar dari imigrasi ternyata ada Amrul yang sudah sampai dulu dengan JAL jam 8-an tadi. Langsung kita ke counter Airport Limousine untuk mengurus bus yang berangkat ke hotel tempat kita akan menginap. Setelah menunggu sebentar, pukul 1 petugas dari Airport Limousine mendatangi kita dan mengantar keluar untuk masuk ke bus. (di sinilah saya mulai merasakan susahnya kalau tidak bisa mengerti bahasa lokal karena bahasa inggris mereka susah dimengerti, saya bilang teman saya namanya Amrullah eh dia ngertinya “umbrella”, he bring umbrella? -____-). Di luar sedang hujan dan hujannya kayak air es, dingin pisan lah.

Di dalam bus ternyata sudah ada peserta yang lain 2 orang dari Malaysia, 1 orang dari Thailand, dan 3 orang dari China. Kita masih menunggu 1 orang lagi dari China sedangkan 1 orang dari Taiwan rupanya tertinggal pesawat dan baru menyusul keesokan harinya. Akhirnya semuanya sudah komplit dan berangkatlah menuju Sagamihara (fyi, Sagamihara berbatasan dengan di sebelah barat daya Tokyo).

Di pintu tol, ke-katrokan saya dimulai. Saat mendekati pintu tol, bus memelankan lajunya tetapi kok tidak berhenti dan akhirnya saat melewati pintu tol bus tidak berhenti sama sekali. “Lhoh ini ambil kartunya gimana?”, pikir saya. Ternyata sistem pembayarannya otomatis, mungkin menggunakan semacam RF ID yang tertanam pada masing-masing kendaraan jadi kendaraan hanya perlu memelankan jalannya agar pintu tol terbuka secara otomatis.

Kita sempat berhenti di rest area sekedar untuk ke toilet dsb. Di sini ada moment di mana saat saya berjalan di parkiran dan hendak menyeberang jalur mobil, saya sempat berhenti karena ada mobil yang sedang berjalan pelan menuju arah saya dan jaraknya lumayan dekat. Eh ternyata, mobil tersebut berhenti untuk memberi kesempatan saya menyeberang terlebih dahulu! Yak ini merupakan salah satu contoh bagi kita yang suka mengemudi seenaknya sehingga orang menyeberang di zebra cross pun tidak diberi kesempatan untuk menyeberang, padahal zebra coss harusnya menjadi jalan sutra bagi pejalan kaki.

Akhirnya sampai di tempat kita menginap yaitu Annex Daiichi Hotel. Hotel ini memang bukan hotel besar tetapi lumayan nyaman dengan gaya breakfast yang sangat jepang. Setelah salat dhuhur-ashar, kita putuskan untuk mengejar kereta terdekat untuk keluar menuju Akihabara (oke saya sebenarnya pengin ke pusat kota Tokyo untuk melihat Tokyo Tower tetapi karena hanya Bang Amrul yang jadi guide dengan bahasa jepangnya yang terbatas, jadi saya ngikut dia (terpaksa) saja).
Sahril tidak ikut karena tepar duluan, jadi berangkatlah kita bertiga ke Kobuchi Station. Jam masih pukul 6 kurang tetapi sudah berasa malam karena winter. Pertama keluar, brrrrrrrr dingin banget lah, apaliagi jaket yang saya pakai hanya jaket hangat untuk daerah Bandung dan sekitarnya jadi bukan jaket winter dan ditambah tidak adanya sarung tangan karena ketinggal di bus dari airport 😦

Untuk menuju Akihabara dari Kobuchi, kita perlu berganti kereta 2 kali yaitu di Machida dan Shinjuku. Untuk pertama kalinya menggunakan vending machine untuk membeli tiket, utungnya ada petunjuk dalam bahasa inggris. Harga tiket untuk Kobuchi-Machida 140 yen, menggunakan JR line. Satu hal yang harus diingat, setelah tiket kita gunakan untuk masuk, harap disimpan baik-baik karena diperlukan juga untuk keluar dari stasiun tujuan.

Sampai di Machida inilah kebingungan pun dimulai. Saya yang hanya mengekor Amrul pun ngikut saja.  Setelah membeli tiket Odakyu sebesar 400 yen, masuklah kita ke dalam. Amrul yang disusul Gorly dengan (kelihatan) lancar melewati gate, sedangkan tiket saya yang saya masukkan berkali-kali selalu kelaur lagi tetapi pintunya tidak mau terbuka dan tiket pun utuh, tidak ada tanda lubang. Akhirnya petugas yang berada di samping gate pun dengan inisiatifnya memberi tahu (mungkin ya) ke saya, tetapi apa yang dia katakan…. dia bicara dalam bahasa jepang………….. meneketehe lah. Jadi keluarlah bahasa pamungkas, “Sorry, I can’t speak Japanese”. Apakah kata sakti ini membantu? Ternyata tidak saudara-saudara. Petugas yang ada pun kelihatan bingung, dia tidak bisa bahasa inggris sama sekali!

Amrul yang sudah lewat gate pun kembali mencoba berkomunikasi dengan petugas tersebut tetapi karena memang kemampuan master Amrul yang masih beginner juga sehingga protokol yang dipakai tidak match, gagal lah komunikasi tersebut. Saat Amrul berusaha keras memahami bahasa dia, saya iseng tanya ke Gorly. “Lhoh kok tadi bisa lewat?”, tanya saya. “Bisa lah, tadi gw lompatin pagernya”, jawab Gorly tanpa rasa bersalah. Jadi kedua orang di depan saya tadi bisa lewat gate karena mereka memang melompati pintu, memang bakat sih -_____-

Karena komunikasi Amrul dan petugas tetap gagal. Menyerahlah sang petugas dan dia pun meninggalkan kita. Tunggu dulu, ternyta petugas tersebut tidak bermaksud lari dari kita tetapi dia kembali lagi dengan membawa temannya yang bisa bahasa inggris. Yak, dia berusaha keras membantu kita. Salut!

Meskipun petugas yang kedua tersebut tidak terlalu lancar bahasa inggrisnya akhirnya kita bisa tahu bahwa tiket yang kita beli salah! Yak tidak benar-benar salah tepatnya, jadi tiket yang kita beli adalah tiket semi express yang tetap butuh tiket reguler untuk bisa masuk dan keluar stasiun. Akhirnya tiket 360 yen pun kita ambil lagi.

Jadwal kereta berangkat jam 6.40 (kalau tidak salah) jadi kita menunggu sebentar. Saya dan Gorly ada dalam 1 gerbong sedangkan Amrul di gerbong lain. Akhirnya jam 6.40 kurang sedikit ada kereta datang dan dengan bodohnya saya dan Gorly yang sudah tepat di jalur nomor gerbong malah saling tanya “Eh ini kereta apaan ya? Kereta kita bukan sih?”. Sampai jam 6.40 tepat pintu kereta tersebut tertutup dan sadarlah kita bahwa kita tertinggal kereta! Yah saat itu kita, orang asing yang baru pertama kali ke Jepang dan ngga bisa bahasa jepang, sudah pasrah, sudah ngga tau arah pulang ke mana, kalau kita nyusul Amrul juga ke mana, dan pulsa HP tinggal buat telpon 3 menit atau sms 3x (tarifnya jadi Rp 3500 per sms/ per menit telpon).

Oke akhirnya saya sms Amrul buat nunggu di stasiun tujuan. Gorly berusaha minta bantuan ke petugas KA dan akhirnya dia nemu petugas yang bisa bahasa inggris, petugas ini yang membantu kita tadi saat kebingungan membeli tiket. Si petugas pun berkata “Follow me!”. Oke kita ngikut saja, dan apa yang dia lakukan? Oh ternyata dia me-reimburse tiket kita! Bayangkan dia rela repot-repot untuk me-reimburse tiket kita yang sejatinya kesalahan kita, di mana proses yang dia lakukan cukup lama yaitu 10 menitan. Akhirnya petugas datang dengan membawa 800 yen (untuk 2 tiket) dan memberikan ke kita (lumayan lah haha). Dan dia membawa kita ke jalur kereta lagi dengan menyuruh kita naik dengan kereta reguler.

Akhirnya sampailah kita ke Shinjuku, dan bingung untuk mencari Amrul. Saya sms lah dia lagi, tetapi belum delivered juga. Baru keliling sebentar akhirnya nemu juga Amrul dan langsung kita beli tiket untuk ke Akiba.

preman Akihabara

Bagi saya tidak ada yang terlalu menarik di Akiba karena ini hanya tempat pusat penjualan barang elektronik. dan saya pun sebenarnya tidak berencana untuk membeli barang elektronik jadinya hanya keluar masuk toko ngga jelas. Perut tidak bisa diajak kompromi setelah terakhir makan dan minum pagi tadi di pesawat, akhirnya beli lah makanan untuk pengganjal perut. Karena onigiri polos yang chance tidak halalnya sedikit sudah habis oleh Amrul dan Gorly, dengan terpaksa jadilah saya mengambil roti yang kata bung Amrul sih aman-aman saja (semoga memang halal).

Kereta terakhir ada jam 11 jadi kita langsung balik dari Akiba jam 9-an. Ternyata kereta dari Shinjuku belum datang jadi bisa keliling sebentar. Karena seharian sudah capek dan kondisi kereta yang nyaman untuk tidur, tidurlah saya :D. Akhirnya sampai hotel hampir jam 12 .

Odakyu, Shinjuku-Kobuchi

Asian Winter School 2011 in Sokendai-ISAS/JAXA (part1)

Tags

, , ,

Meskipun acara ini sudah berlalu hampir 3 bulan yang lalu dan memang baru sempat sekarang, tidak ada salahnya jika saya post juga di blog. Itung-itung biar blognya tidak kosong 😀

Akhir November tahun lalu saat Bung Amrul memberi tahu bahwa ada Asian Winter School di SOKENDAI (Graduate University for Advanced Studies) bekerja sama dengan ISAS (Institute of Space and Astronautical Science)/JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency). Beberapa jam sebelum pulang ke Jogja (sekalian ada workshop IiNUSAT juga) saya pun mendaftar (deadliner :D). FYI tahun lalu, dari ITB ada dua orang yang ikut yaitu Dhea PN06 dan Ibnu PN07 serta ada beberapa orang dari LAPAN juga yang ikut.

Akhir Desember kemarin pun pengumuman keluar dan alhamdulillah saya masuk sebagai salah satu pesertanya. Dari ITB, selain saya ada bung Amrul PN06 sendiri, Sahril PN06, dan Hagorly PN07. Yak karena ini juga saya pun membatalkan rencana backpacking ke Lombok via Bali bareng anak Telkom 08 meskipun sangat pengin ikut karena belum pernah ke Lombok sekali (maaf bahkan Bali pun belum pernah. Oke jujur, menginjak tanah Jawa Timur pun saya belum pernah). Selain itu karena memang harus mempersiapkan visa dan bahan presentasi, budget yang ada pun terbatas sebab dari pihak penyelenggara hanya menyediakan tiket pesawat pp dan hotel, sedangkan kebutuhan lain-lain seperti makan ditanggung sendiri.

13 Februari 2012
Karena ingin check in awal biar dapat window seat dan juga takut kena macet di jalan, seperti pengalaman sebelumnya pas ngurus visa Jakarta-Bandung ditempuh 5 jam, saya pun berangkat awal dari Bandung yaitu jam 13.00 dengan Cipaganti. Saat itu cukup repot juga karena baru beres kuliah jam 11 sedangkan packing belum beres dan ditambah harus beli brownis titipan Amrul.

Ternyata jalanan sangat lancar, malah tidak ada macet sama sekali (atau saya pas tidur ya)jadi masih cukup sore sampai Soekarno-Hatta. Setengah jam kemudian datanglah Sahril dan Hagorly sendiri datang jam setengah 7. Sedangkan Amrul karena departure dari Singapore, tadi pagi sudah berangkat dulu dari Bandung ke Singapore.

Akhirnya kita bertiga check in sekitar jam 8 kurang dan asiknya masih dapat kursi ABC jadi masih bisa lah lihat view dari window pesawat. Oh iya, karena memang tiket diurusin sama agen dari pihak penyelenggara makanya kita tidak bisa milih maskapai serta tanggal keberangkatan & pulang. Jadinya untuk flight ini kita dapat Korean Air dengan rute CGK-ICN-NRT. Yah memang menyenangkan karena sekali terbang dua negara disinggahi meskipun misalnya dapat Garuda yang transit di Bali juga ngga apa-apa biar bisa dikatakan pernah ke Bali 😀

Akhirnya masuk gate jam 9-an. Katanya flight ini merupakan joint flight dengan Garuda jadi mungkin ini yang membuat occupancy Y class -nya sangat penuh yaitu >90%. Penumpang sendiri didominasi pribumi Korea.

suasana kabin

suasana kabin

Sebelumnya untuk menjamin kehalalan makanannya,  saya memesan moslem meal. Keuntungannya memesan special meal yaitu kita mendapat pelayananan makanan paling awal 🙂

Moslem Meal @Korean Air

Moslem Meal @Korean Air

Kick-Off Meeting on Indonesia-Japan Collaboration on Microsatellite Development

Kamis kemarin, ada kesempatan mengikuti temu perdana untuk inisiasi kerjasama antara Indonesia dengan Jepang pada bidang microsatellite di IPB International Convention Center. Acara tersebut sendiri diadakan oleh LAPAN dan JST (Japan Science and Technology Agency)/JICA (Japan International Cooperation Agency) berkolaborasi dengan BPPT dan Hokkaido University. Berawal saat pekan kemarin, saat Pak Heru memberi tahu tentang adanya pertemuan tersebut kemudian beliau mengusahakan agar dari tim ITB-Sat, selain Pak Ridanto yang memang diundang, agar bisa ikut. Akhirnya dari ITB-Sat dapat tiga slot kursi untuk ikut acara tersebut. Nah karena Pak Ridanto tidak bisa ikut maka slot yang ada jadi empat.

Indonesia-Japan Collaboration on Microsatellite Development

Kamis kemarin ada tiga mata kuliah yang harus saya ikuti, sehingga sampai Senin kemarin saya tidak konfirm untuk bisa ikut. Tetapi entah kenapa di akhir-akhir saya putuskan untuk bolos kuliah sahaja untuk ikut acara itu. Padahal sebelumnya sudah ada empat orang yang konfirm untuk ikut yaitu Amrul, Luhung, Ibnu, dan Hagorly, tetapi karena Bung Gorly sedang baik dengan memberikan kesempatan ke yang lebih muda maka ikutlah saya menggantikan dia. (Thanks banget Bang atas kesempatannya!)

Kamis jam 6 janjian kumpul di depan gerbang depan buat nebeng Luhung dan  biasalah saya kira ada toleransi waktu Indonesia jadi agak santai saat berangkat dari kos, tetapi baru saja keluar dari parkiran salman jam 6.10 sudah ditelpon sama Bang Amrul. Ternyata dia sudah sama Luhung menunggu di depan gerbang. Sampai gerbang depan masih kurang Ibnu dan ternyata Ibnu lagi demam jadi ngga bisa ikut. Karena dia baru sms ke Amrul jam 4 dan Hagorly di-SMS juga ngga bales jadi yang berangkat cuma kita bertiga.

Dengan gaya nyetir zig-zag nya Luhung, sekitar jam 8.20 sudah sampai IPB Botani Square dan di situ saya baru tahu bahwa mall yang ada di IPB yang saya kira kecil ternyata bener-bener mall ukuran mall lah. Saya kira dengan adanya tambahan botani di namanya bakalan bikin mallnya lebih ramah lingkungan, ternyata pohon yang ada hanya di sekitar pelataran parker depan (tidak rimbun banget juga sebenarnya) dan ternyata tidak ada satu pun pohon besar di dalam mall haha…

Rundown acara yang dimulai 9.05 ternyata benar-benar dimulai tepat waktu! (applause). Pada meeting pertama ini dari pihak Indonesia antara lain berasal dari LAPAN, BPPT, Kemenristek, Bakosurtanal, IPB, dan ITB sedangkan dari Jepang ada dari JICA, JST, NIES (National Institute for Environmental Studies), Hokkaido University, dan Tohoku University. Dan di situ lah, kita bertemu lagi dengan Sakamoto-san (Asisten Profesor dari Tohokudai) setelah sebelumnya sempat dua kali ke ITB. Beliau akan mempresentasikan tentang proyek beliau pada Rising-1 dan rencana peluncuran Rising-2, keduanya merupakan proyek kerjasama antara Tohokudai dengan Hokudai.

Karena masih merupakan meeting perdana maka, sesi yang ada diisi dengan presentasi dari kedua belah pihak (Lapan,BPPT, Tohokudai, Hokudai) mengenai microsatellite. Karena misi dari microsatellite ini diutamakan untuk remote sensing, sesi pertama pun disisi penjelasan mengenai aplikasi remote sensing, sesi kedua mengenai perkembangan riset microsatellite di Indonesia, dan yang ketiga mengenai perkembangan riset microsatellite di Jepang.

Sesi pertama merupakan sesi yang kurang saya mengerti jadinya state siap tidur pun langsung aktif di tengah sesi ini. Nah baru sesi selanjutnya yang menarik karena lebih ke pembahasan teknis meskipun hanya sekedar overview.  Sesi kedua dan ketiga ini relatif sama karena masing-masing pihak sama-sama unjuk gigi dengan project yang sudah dilakukan, meskipun dari Indonesia baru satu yang diceritakan meluncur dengan beberapa buah yang sedang dikembangkan dan dalam rencana untuk siap diluncurkan (tenang ini kan baru awal, insya Allah ke depan Indonesia sudah sangat jago kok).

Di sesi terakhir, sebenarnya dibahas mengenai rencana dari bentuk kolaborasi antara Indonesia dengan pihak Jepang seperti rencana pembentukan konsorsium. Tetapi karena memang ini baru pertemuan perdana, pembahasan lebih jauh akan dibahas pada pertemuan selanjutnya (sekitar bulan depan).

Acara selesai sekitar jam setengah 5 kemudian kita iseng keliling sebentar di Botani Mall yang ada di bawah. Jam 5-an langsung balik ke Bandung dan alhamdulillah selamat sampai tujuan meskipun sempat muter sampai arah Priok bentar karena si sopir keasyikan nyalip sehingga tol yang ke arah Cikampek pun kesalip 🙂